Literatur Review Analisis Faktor Resiko Terjadinya Blight Ovum Pada Kehamilan Trimester 1

Authors

  • Fri Yanti Simatupang Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mitra Husada Medan
  • Siti Nurmawan Sinaga Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mitra Husada Medan
  • Eka Falentina Tarigan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mitra Husada Medan
  • Dia Ade Triana Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mitra Husada Medan
  • Deby Nilva Lase Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mitra Husada Medan
  • Nurul Jannah Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mitra Husada Medan
  • Insawani Manalu Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mitra Husada Medan

Keywords:

Blight ovum, Kehamilan trimester pertama, Faktor risiko, Keguguran dini, Kesehatan ibu

Abstract

Blighted ovum (BO) merupakan salah satu kelainan kehamilan yang ditandai dengan tidak terbentuknya janin, sehingga kondisi ini dikenal sebagai kehamilan anembrionik. Pada keadaan ini, hasil pembuahan telah mengalami implantasi di dalam uterus, namun perkembangan embrio tidak terjadi. Oleh karena itu, di dalam rahim hanya ditemukan kantong kehamilan dan cairan ketuban tanpa adanya embrio. Ekacahyaningtyas dan Mustikarani (2021) menjelaskan bahwa blighted ovum terjadi ketika proses pembuahan tidak diikuti dengan perkembangan janin, sehingga kehamilan tidak dapat berlanjut secara normal.
Angka kejadian blighted ovum dilaporkan cukup tinggi di berbagai wilayah, baik secara regional maupun nasional. Di kawasan ASEAN, blighted ovum menyumbang sekitar 51% dari seluruh kejadian abortus. Sementara itu, di Indonesia, kondisi ini ditemukan pada sekitar 37 dari setiap 100 kehamilan. Data tingkat daerah menunjukkan bahwa prevalensi blighted ovum di Provinsi Lampung mencapai 30%. Bahkan, di Kota Metro, angka kejadiannya tercatat lebih tinggi, yaitu sebesar 43,3% (Kemenkes RI, 2021). Tingginya prevalensi tersebut menunjukkan bahwa blighted ovum masih menjadi permasalahan kesehatan reproduksi yang memerlukan perhatian serius, khususnya dalam upaya deteksi dini dan penanganan yang tepat.
Sebagian besar ibu hamil yang mengalami blighted ovum umumnya mendapatkan penatalaksanaan berupa tindakan kuretase untuk mengeluarkan jaringan kehamilan yang tidak berkembang dan mencegah terjadinya komplikasi lanjutan (Ananda P.F.K., 2020). Pada kondisi normal, kehamilan merupakan proses fisiologis yang diawali oleh pembuahan dan implantasi sel telur di dalam rahim, kemudian berlanjut dengan pertumbuhan dan perkembangan embrio hingga menjadi janin yang sehat. Namun, pada kondisi tertentu dapat terjadi gangguan pada tahap awal perkembangan embrio, sehingga pertumbuhan embrio terhenti dan kehamilan tidak dapat dipertahankan. Kehamilan anembrionik ditandai dengan pertumbuhan kantong kehamilan yang tampak normal, tetapi tidak disertai dengan perkembangan embrio. Kondisi ini diduga terjadi karena embrio berhenti berkembang sejak fase awal kehamilan dan selanjutnya diserap kembali oleh tubuh ibu (Sukarni, 2014).

References

Anggraini, N. H., Mas’udah, E. K., & Triningsih, R. W. (2021). Faktor determinan kejadian blighted ovum — tinjauan literatur yang membahas faktor penyebab blighted

ovum termasuk mekanisme biologis dan karakteristik kehamilan pada trimester pertama.

Lisa, L., & Mochartini, T. (2024). Gaya hidup dan nutrisi dengan terjadinya blighted ovum pada ibu hamil trimester I — studi yang mengevaluasi hubungan pola hidup serta nutrisi dengan kejadian blighted ovum.

Evi, F., Nainggolan, A. W., Purba, E. M., & Manurung, H. R. (2024). Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya baby blues pada ibu postpartum di Puskesmas Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur tahun 2023. JIMU: Jurnal Ilmiah Multidisipliner, 2(03), 757-765.

Rahmawati, D., & Anggraeni, F. D. (2022). Pengaruh Paritas dan NutrisiTerhadap Kejadian Blighted Ovum — analisis faktor paritas dan nutrisi sebagai prediktor kejadian blighted ovum. Ahmar, H., & Andriany, A. (2023).

Blighted Ovum: Studi Kasus pada Ibu dengan Kehamilan Patologi — laporan kasus yang menggambarkan kejadian blighted ovum beserta faktor klinis di baliknya.

Anembryonic Pregnancy (StatPearls/NCBI, 2023) — ulasan medis terbaru yang menjelaskan mekanisme perkembangan kehamilan kosong (blighted ovum) dan kaitannya dengan kelainan kromosom.

abortion — artikel ilmiah yang mengidentifikasi usia >35 tahun, obesitas, serta riwayat keguguran sebagai faktor risiko keguguran awal (termasuk blighted ovum). Dinkes Kota Bogor.

Penatalaksanaan, H. dan Care, A. (2024) “Hubungan penatalaksanaan antenatal care (anc) dengan komplikasi persalinan,” 4(2), hal. 69–74.

Prof.Dr. Sugiyono (2022) metode penelitian kuantitaif,kualitatif,dan R&D. BANDUNG.

profil kesehatan indonesia (2024) Profil Kesehatan.

Rafhani Rosyidah dan Nurul Azizah (2019) BUKU AJAR MATA KULIAH OBSTETRI PATHOLOGI ( PATHOLOGI DALAM KEHAMILAN ).

SDGS (2024). Tersedia pada: https://sdgs.un.org/goals.

Srininta et al. (2024) “Edukasi Kesehatan Reproduksi dengan Risiko Pernikahan Usia Dini pada Remaja Usia 15-19 Tahun di Desa Bangun Rejo Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara Provinsi Sumatera Utara Tahun 2023,” 568(3), hal. 2–6.

Sinaga, S. N., Sari, F., Butar-Butar, D., Batee, C. M., & Sinaga, A. (2024, March). ASUHAN MANAJEMEN KEBIDANAN BERKELANJUTAN (CONTINUITY OF CARE) PADA NY. H DI PRAKTIK MANDIRI BIDAN ROSLENA KOTA MEDAN TAHUN 2024. In Prosiding Forum Ilmiah dan Diskusi Mahasiwa (Vol. 4, pp. 55-59).

Downloads

Published

2026-02-17